Home | Site Map | | | | | | | | |

Artikel

Mencari biang kerok hasil buruk UN 2005

Oleh Jonatan Lassa *

(Indomedia.com 5 Juli 2005)

TULISAN Anita Lie di Kompas, Senin, 4 Juli 2005, dengan judul UN anjlok, siapa yang salah? menstimulasi saya untuk menulis opini singkat ini. Lie dengan telak menunjukan bobroknya sistem evaluasi pendidikan kita di Indonesia serta mempertanyakan apa sebenarnya tujuan ujian akhir nasional (UN)?

Beberapa hal dari argumentasi Anita Lie yang saya coba reframing dalam kata-kata saya berkaitan dengan akar masalah dari jebloknya pendidikan kita dari indikator hasil UN. Pertama, argumentasi konservatif yang kerap menyalahkan siswa sebagai biang yang tidak menyiapkan diri dengan baik untuk menghadapi ujian nasional. Argumentasi ini menjadi acuan langganan para birokrat termasuk wakil presiden yang terhormat pun ikut bicara dan menyiratkan bahwa anak-anak yang tidak lulus itu tidak bekerja keras dan orangtua mereka kurang memperhatikan (lihat Kompas tanggal 4 dan opini Lie Kompas 4/7).

Argumentasi Lie terkesan lebih unggul dan populis, dimana ditunjukkan bahwa prinsip "test what you teach" (ujilah apa yang Anda sudah ajarkan)" dilanggar karena tujuan dari UN di Indonesia sungguh absurd. Bila UN merupakan upaya assessment dari kondisi pendidikan nasional, maka sistem sampling representasi saja sudahlah cukup karena 100% sampling alias semuanya di-assessed terang adalah pemborosan sumber daya. Kalau UN hanyalah sekadar untuk mapping kualitas pengajaran, mengapa dijadikan sebagai patokan yang pada tahap tertentu menghambat masa depan anak?

Disimpulkan di sini bahwa terkesan sungguh kuat bahwa bangsa ini lebih memakai keringat/otot (perspiration) dalam menggenjot mutu pendidikan ketimbang otak (inspiration). Lie mengatakan "kerja keras" yang sekian lama dilakukan cenderung terjelma dalam upaya pengajaran yang "teach what you test" (ajarkan apa yang akan Anda ujikan)". Kualitas pengajaran direduksi menjadi obsesi pencapaian nilai nominal semata. Akibatnya, ruang kelas lebih merupakan ruang kerja soal ketimbang belajar.

Bukti kerja keras yang melelahkan otot dan pikiran seperti ini terlihat bukan saja di Jakarta tetapi juga di sekolah-sekolah di kabupaten miskin seperti TTS yang diplesetkan sebagai "Tinggal Ta’i Sapi" (lih. Pos Kupang 26/06). Anak-anak diharuskan belajar 6 hari seminggu hingga jam 15.00 dan dijejali dengan soal-soal ujian semata ditambahkan dengan les-les tambahan dan bimbingan belajar di sore hari. Ditambahkan Lie bahwa "sekolah yang seharusnya menyediakan lingkungan, sarana, dan prasarana belajar yang kondusif bagi siswa malah terjebak dan berubah menjadi tidak lebih dari bimbingan belajar. Guru yang seharusnya menjadi fasilitator yang mendampingi, mengamati, dan menilai kegiatan dan interaksi siswa juga terjebak dan berubah menjadi mesin distribusi soal-soal latihan dan koreksi jawaban siswa".

Melihat sistem di Inggris

Perlu ditegaskan sebelumnya bahwa saya tidak berniat untuk "copy-paste" sistem di Inggris, tempat saya studi untuk diterapkan di Indonesia. Tetapi, setidaknya ada beberapa prinsip mendasar yang saya amati dari teman-teman Indonesia yang menyekolahkan anak mereka di level SMP/SMU di Inggris.

Pertama, sistem pengajaran di SMU-SMU di Inggris tidak membebani anak didik dengan tugas-tugas yang ‘tidak perlu’. Tidak ada pekerjaan sekolah yang dibawa ke rumah. Titik. Urusan sekolah berhenti di sekolah. Kondisi belajar dan pembelajaran si anak di sekolah tidak diarahkan untuk pencapaian nilai, tetapi lebih kepada pemahaman isi pelajaran, dan nuansa psikologis di kelas dirancang senyaman mungkin oleh guru bagi anak didik. Bahkan, tidak ada sistem yang membuat anak tahan kelas. Semua anak SD/SMP dan SMU otomatis naik kelas sesuai umurnya.

Teman saya yang barusan lulus A level (pra universitas, bagi anak-anak berusia 16 tahun ke atas) lalu masuk S1 di universitas saya menceritakan pengalamannya dua tahun di A level. Ketika pertama sekolah di A level sebagai anak Indonesia yang sudah dijejali bimbingan tes di Jakarta, dia paling menonjol dalam kecepatan mengerjakan soal-soal matematika dan kimia. Tetapi yang ironis adalah dia tidak pernah tahu bagaimana menganalisis hasil dari angka-angka. Dia baru belajar untuk memahami bahwa matematika dan kimia bukan sekadar angka-angka buta.

Teman saya yang sedang menyelesaikan Ph.D di kampus saya pun menyekolahkan dua anaknya di level SD/SMP. Kalau sekarang anak-anak ini ditanya apakah susah belajar di Inggris, dengan mudah mereka menjawab bahwa lebih sulit bersekolah di Indonesia ketimbang di Inggris. Lalu mengapa kualitas pendidikan di Inggris berada jauh di atas Indonesia?

Sistem di Inggris tidak sempurna, tetapi selalu ada upaya dan ruang untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif. Bila anak-anak yang jenius merasa bahwa sekolah pemerintah terlalu ‘santai’, maka ada alternatif sekolah-sekolah swasta yang lebih berobsesi mengenjot kualitas pendidikan anaknya.

Yang menarik, masa-masa di A level (setingkat SMU kelas II/III di Indonesia) adalah tahap persiapan untuk masuk dalam sistem belajar di universitas. Siswa lebih disibukkan dengan pendalaman mata pelajaran sebelumnya, teknik-teknik menulis dan evaluasi akhirnya merupakan standar umum di Inggris Raya.

Copy paste?

Pendekatan "copy paste" kulit luar tanpa substansi dari sistem di luar memang kerap lebih merupakan kutukan ketimbang berkat. Tetapi sudah banyak suara-suara yang membunyikan ulang moto "education for freedom" dan "freedom for education". Aspek pedagogi merupakan sisi yang fundamental dalam pembangunan manusia Indonesia, tapi paling terlupakan. Anak-anak sudah saatnya dibebaskan dari proses-proses (drivers), yang merusak mental mereka.

Obsesi pejabat-pejabat pendidikan dalam menggenjot nilai, yang selanjutnya merupakan indikator keberhasilan yang menambahkan kredit poin untuk kenaikan pangkat, sudah saatnya dihentikan. Saya mengutip lagi pernyataan Lie bahwa "Setelah 60 tahun merdeka, sungguh memrihatinkan Indonesia mendapat nilai rata-rata E dalam rapor pendidikan dan berada di peringkat 10 dari 14 negara". Pesan Lie akan saya ulangi di sini bahwa daya yang terbatas dan besar sebaiknya dihemat bila UAN semata-mata hanya untuk meng-assess output pendidikan.

* Penulis, alumnus FT Unwira 1999,

sedang studi S2 di Inggris

 

click to change page
28/12/2008 ..... Foto Kegiatan
17/5/2005 ..... Deklarasi
27/12/2008 ..... Bab V Kekayaan
27/12/2008 ..... Bab V Kekayaan
26/12/2008 ..... BAB V kEKAYAAN
26/12/2008 ..... BAB V kEKAYAAN
    |     |   ........ Power by Atwone