Berita Pendidikan
Kecurangan di Berbagai Tempat Terjadi Anomali di Bidang Pendidikan
Jakarta, Kompas, Rabu 6 Juli 2005 - Indikasi adanya kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional—demi mengedepankan hasil dan menapikan proses belajar selama bertahun-tahun—terjadi di berbagai tempat di Tanah Air. Ironisnya, di beberapa tempat tindakan tidak terpuji itu disinyalir justru mendapat ”dukungan” para guru dan pengelola sekolah.
Pengakuan seorang siswa di sebuah SLTA di kawasan Tambun, Bekasi, menyebutkan bahwa para peserta ujian nasional (UN) di sekolahnya mendapat ”bantuan” mengerjakan soal dari guru. Sesaat sebelum ujian hari pertama dimulai, katanya, seorang guru dari sekolah yang masih satu yayasan dengan tempatnya menuntut ilmu tersebut masuk ke ruang ujian.
”Guru tersebut kemudian meminta iuran Rp 50.000 dari masing-masing anak di ruang ujian tersebut. Uang tersebut untuk pengawas,” katanya ketika diminta menirukan omongan guru tersebut di depan ruang ujian.
Ruang ujiannya saat itu diisi 20 orang anak. Setelah mengumpulkan iuran tersebut baru ujian dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Namun, beberapa menit sebelum bel tanda ujian berakhir, guru yang sama datang kembali ke ruang ujian. Setelah mengucapkan permisi kepada pengawas asal sekolah lain di ruang tersebut, ia membacakan kunci jawaban di depan kelas.
Untuk mata uji Ekonomi kunci jawaban yang dibacakan mulai dari nomor 15-40 dari total 40 soal dan Bahasa Indonesia dari total 60 soal hanya dibacakan sekitar seperempatnya. Itu pun secara acak. Adapun untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, dibacakan kunci jawaban dari nomor 30 sampai 60.
”Saya malah jadi pusing karena ada beberapa perbedaan dengan jawaban yang sudah saya kerjakan. Akhirnya sebagian ada yang mengikuti jawaban guru dan ada yang tidak,” kata murid yang prestasinya di sekolah itu terbilang baik.
Para murid di lembaga tersebut sebetulnya sudah mengerti adanya rencana ”bantuan” itu. Kabar adanya rencana tersebut juga sudah beredar dari mulut ke mulur di antara para murid. Sebab, ”bantuan” semacam itu bukan pertama kali dilakukan. Para alumnus lembaga pendidikan itu pernah pula menceritakan hal tersebut. ”Saya dengar dari alumnus tidak usah khawatir ujian nasional. Nanti juga ada bocoran, tunggu saja,” katanya.
Indikasi kecurangan juga kini mulai merebak di Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ini terkait adanya lonjakan prestasi beberapa siswa SMP negeri di sana yang sehari-hari tergolong siswa biasa-biasa saja tiba-tiba meraih angka sempurna alias 10,00 pada UN lalu.
”Semua guru di sekolah itu tahu persis bahwa prestasi keseharian anak-anak yang dapat nilai 10,00 tersebut tidak tergolong bagus. Mereka rata-rata di bawah peringkat 10 besar. Bahkan ada yang tergolong malas dengan absensi ketidakhadirannya sampai 20 hari,” ujar Deny Suwarja, Ketua The Community of Education for All.
Menurut Deny, ketika beberapa anak itu ditanya bagaimana caranya ia tiba-tiba bisa meraih prestasi gemilang itu, dan diusulkan agar yang bersangkutan mengerjakan soal sejenis, anak tersebut malah pucat pasi. Belakangan memang berembus kabar adanya kunci jawaban soal yang beredar di sejumlah siswa SMP tersebut.
”Kalau begitu, anak-anak tidak usah rajin datang ke sekolah. Langsung saja ujian akhir agar tidak buang-buang ongkos,” papar Deny yang juga adalah guru SMP Negeri 1 Cibatu.
|