Profil Aktivis Guru
GINO VANOLLIE
AKTIVIS FMGI KOTA BANDAR LAMPUNG
Ia biasa disapa Mas Gino oleh teman-teman aktivis baik dari kalangan guru maupun aktivis LSM lainnya. Sehari-hari menekuni pekerjaan profesinya di SMA Negeri 9 Bandar Lampung. Aktifitas organisasi sebagai Sekjen di Forum Martabat Guru Indonesia/FMGI- Lampung, dan sebagai Koordinator wilayah FGII untuk kawasan Lampung dan Sumatera bagian selatan
Menjadi aktivis guru bukan merupakan pelarian dari pekerjaan profesinya sebagai guru, melainkan justru ia merasa harus memperkuat basis komitmen profesinya melalui berbagai kegitan dan gerakan membangun komunitas guru kritis. Dalam benaknya terkandung prinsip bahwa guru yang professional dan sejati bukan sekedar guru yang baik dan rajin mengajar, tetapi lebih dari itu selalu memberi inspirasi pada berbagai gerakan pembaharuan pendidikan, sekaligus selalu membangun kesadaran kritisnya dalam menyikapi berbagai perubahan itu sendiri.
Warga Lampung yang asli Blitar ini adalah sosok yang tegas dalam mengusung isu demokratisasi pendidikan. Sikap tegas itu ia perlihatkan ketika mengikuti pembahasan tentang RUU Guru yang diprakarsai oleh Depdiknas di Jakarta. Ia jelas-jelas menolak kalau sampai ada pasal yang menyebutkan keharusan guru untuk hanya memiliki organisasi tunggal saja. Dengan tegas ia mengatakan bahwa bukan saja hal itu merupakan pelanggaran terhadap HAM guru tetapi juga merupakan pembodohan yang tidak hentinya terhadap guru yang terjadi sejak masa orde baru. “Pembodohan ini jelas akan mengubur sendi-sendi demokrasi di dunia pendidikan. Karena guru yang dibodohi akan membodohi pula anak-anak didiknya. Arti dari semua ini adalah guru digiring untuk mengubur demokrasi bagi bangsanya sendiri. Ironis! Guru yang seharusnya mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat dalam berdemokrasi, justru selama ini digiring untuk membodohi masyarakat!! tegas suami dari Nyimas Ani Arifiani.
Komitmennya untuk membangun komunitas guru kritis dan mengusung demokratisasi pendidikan ini ia terus kibarkan kemanapun angina membawanya, baik di pertemuan-pertemuan pelatihan guru, seminar dan diskusi pendidikan atau ketika ia banyak berhubungan dengan banyak kalangan LSM baik di Lampung maupun di Jakarta.
Gino tidak pernah tanggung-tanggung dalam berkiprah. Kesibukan profesinya yang juga cukup melelahkan dirinya baik sebagai guru maupun sebagai kepala sekolah di sebuah sekolah swasta di Bandar Lampung tidak mengurangi kehadirannya di setiap kesempatan kegiatan-kegiatan Federasi Guru atau undangan beberapa LSM. Kalau banyak guru merasa lelah dengan kegiatan-kegiatan itu, bagi Gino justru merupakan pertaruhan martabat profesinya yang telah ia bangun di tengah murid-muridnya.
Cita-citanya sederha, menjadi guru yang bermartabat.
IWAN HERMAWAN
AKTIVIS FAGI KOTA BANDUNG
Sepintas sosok aktivis guru yang satu ini lebih berpenampilan sebagai seniman atau mungkin wartawan daripada sosok seorang guru. Kurus dan janggutnya memang sosok guru, tapi pakaian hitam-hitam yang selalu melekat dalam kesehariannya dan mobilitas membangun jaringan dan informasi untuk keperluan Federasi Guru lebih memperlihatkan keseniman dan kewartawanannya.
Kang Iwan, inilah sosok aktivis guru dari kota Bandung. Sehari-hari ia mencerahkan dirinya dan anak-anak bangsa di SMA Negeri 9 Kota Bandung. Aktivitas organisasi gurunya dimulai bersama teman-teman sesama aktivis guru Bandung dengan mendirikan Forum Aspirasi Guru Indonesia/FAGI kota Bandung dan menjadi Sekjen FAGI sejak tahun 2000. Di Federasi Guru ia sangat menekuni posisi juangnya di Humas FGII. Selain aktivis guru ia juga aktif pada beberapa LSM seperti Lembaga Advokasi Pendidikan /LAP Kota Bandung dan menjadi wartawan lepas di beberapa harian lokal.
Menjadi seorang aktivis guru baginya merupakan tanggung jawab moral untuk memulai memperbaiki pendidikan di Indonesia melalui gerakan membangun kesadaran guru yang dapat mencerdaskan dan mencerahkan bangsa. Oleh karena itu dalam beraktivitas di Federasi ia tidak pernah tanggung-tanggung membangun jaringan FGII dari Aceh sampai Nusa Tenggara Barat. Putra asli Bandung yang lahir 43 tahun yang lalu ini tidak pernah merasa lelah mengirimkan berbagai informasi dan data kepada komponen organisiasi Federasi ke berbagai daerah. Komputer, disket, kamera, warnet, dan handphone adalah teman akrabnya sehari-hari yang tidak pernah lepas dari genggamannya. “Tidak zamannya lagi membangun organisasi yang besar dimasa depan hanya berbasis pada massa. Pengalaman memperlihatkan bahwa guru di Indonesia umumnya belum memahami pentingnya berkiprah dalam organisasi. Oleh sebab itu organisasi guru masa depan adalah organisasi yang harus memiliki basis jaringan yang kuat dan baru kemudian secara bertahap membangun kesadaran guru pada komitmen profesinya”, ungkap Kang Iwan untuk memperjelas pentingnya apa yang dikerjakannya selama ini.
Untuk memperkuat komitmennya itu, Bapak tiga orang anak ini pun langsung menawarkan diri menjadi utusan Federasi Guru untuk pergi ke Aceh sebagai bentuk tanggung jawab Federasi membangun kembali jaringan Federasi Guru di Aceh yang sudah terbangun melalui wadah Asosiasi Guru NAD (ASGU-NAD). Kepergiannya selama 1 minggu, dari tanggal 10 sampai 16 Januari yang lalu ternyata tidak sia-sia. Dengan misi membangun keterlibatan guru dan masyarakat melalui Asgu-NAD, maka hari pertama kedatangannya di Aceh langsung diisi dengan diskusi intens bersama pengurus Asgu-NAD dan masyarakat. Hasilnya terbentuklah gerakan Solidaritas Guru dan Siswa NAD (Soligus-NAD) yang merupakan gerakan untuk membangun kembali pendidikan di Aceh dengan melibatkan lansung guru dan siswa Aceh.
|