Home | Site Map | | | | | | | | |

Berita Pendidikan

 

13 SMA di Yogyakarta Lulus Nol Persen
Jumlah Siswa yang Gagal Bertambah Banyak

Yogyakarta, Kompas, Jumat 1 Juli 2005 - Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ada sejumlah sekolah swasta, termasuk 13 SMA, yang persentase kelulusan siswanya nol persen.

Sekolah-sekolah itu jumlah siswanya 1-14 orang dan ujian nasionalnya dilangsungkan dengan cara bergabung dengan sekolah lain, kata Danuswanto, Kepala Seksi Monitoring dan Evaluasi Dinas Pendidikan Provinsi DI Yogyakarta, Kamis (30/6).

Selain ke-13 SMA tersebut, kelulusan nol persen di DIY juga terjadi pada satu madrasah aliyah (MA), empat madrasah tsanawiyah (MTs), dan sembilan SMP. Dari 86.818 siswa SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK yang mengikuti ujian nasional tahun ajaran 2004/2005 Periode I, sebanyak 18.657 siswa atau 21,49 persen tidak lulus.

Di Pontianak, Kalimantan Barat, dari 170 peserta ujian nasional SMK Putra Khatulistiwa, Kecamatan Pontianak Utara, hanya lima siswa yang lulus (2,9 persen). Termasuk dalam daftar tidak lulus adalah siswa yang berada di peringkat dua untuk sekolah tersebut.

Kepala SMK Putra Khatulistiwa Hairudin membenarkan ada 165 peserta ujian nasional di sekolahnya yang tidak lulus. Ini tahun yang memprihatinkan buat kelulusan ujian nasional di sekolah kami, katanya.

Hairudin mengatakan, tahun 2004 yang tidak lulus mencapai 50 orang dari 114 peserta. Mereka tidak lulus karena hasil ujian nasionalnya tidak mencapai nilai minimal 4,26 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Sementara nilai mata pelajaran kejuruan mereka justru di atas tujuh. Bahkan yang tidak lulus ujian nasional itu anak-anak yang mendapat rangking dan aktif mengikuti lomba mata pelajaran kejuruan,” katanya.

Di SMK Negeri 1 Siantan, dari 193 peserta ujian nasional, yang tidak lulus tercatat 61 orang. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Barat Ngatman, selain di Kota Pontianak, terdapat 3.365 siswa dari 8.248 siswa SMA yang tak lulus ujian nasional. Di tingkat SMP tercatat 22 persen atau 1.913 dari 8.699 peserta ujian nasional yang tidak lulus.

Lebih tinggi

Di Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, angka ketidaklulusan untuk jenjang SMA/MA program IPS 41,9 persen dan untuk program IPA sebanyak 28 persen. Angka ketidaklulusan untuk jenjang SMK adalah 22 persen. Jika dirata-rata, angka ketidaklulusan untuk jenjang SMA/ SMK mencapai 30 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan angka ketidaklulusan tingkat Provinsi DIY yang 23,7 persen.

Situasi yang hampir mirip tampak di Sulawesi Selatan. Lebih dari 12.000 siswa SMA dan 5.000 siswa SMP di Sulsel tahun 2005 ini tidak lulus ujian nasional.

Untuk tingkat SMA, jumlah siswa yang tidak lulus ini meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berkisar 11.000 siswa.

Meski demikian, Kepala Dinas Pendidikan Sulsel Noer Sanusi mengatakan, jumlah siswa tidak lulus ini tidak memengaruhi peringkat Sulsel secara nasional yang tetap masuk lima besar.

Di Nanggroe Aceh Darussalam, 43,2 persen atau 48.160 dari 111.482 siswa SMP, MTs, SMA, dan MA tidak lulus ujian nasional. Tingkat ketidaklulusan siswa di NAD tahun ini jauh lebih besar dibandingkan dengan tahun 2004 yang 33 persen.

Kepala Dinas Pendidikan NAD H Teuku Alamsyah, didampingi Kepala Subdin MMK Abdul Razak dan Kepala Subdin Madrasah Menengah Anwar, berpendapat, ada lima faktor yang menyebabkan siswa NAD tidak lulus dalam ujian nasional tahun ini. Lima faktor tersebut adalah pengaruh tsunami, konflik berkepanjangan, penurunan kegiatan guru, kenaikan standar kelulusan, dan penilaian yang tidak menggunakan tabel konversi.

Dari kelima faktor itu, Alamsyah tidak dapat memastikan faktor mana yang paling berpengaruh. Namun, berdasarkan analisis sementara, faktor tersebut adalah faktor tsunami dan kenaikan standar kelulusan ujian nasional.

Siswa yang berada di lokasi tsunami, kata Alamsyah, praktis tidak mengikuti proses belajar mengajar selama empat bulan. Saat ujian mereka masih mengalami beban psikologis yang cukup berat.

Luapan kegembiraan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pengumuman hasil ujian nasional diwarnai luapan kegembiraan dan kesedihan.

Di Yogyakarta, ratusan sis- wa SMA Kolese De Britto merayakan kelulusan mereka dengan berpawai sambil menun- tun sepeda motor, lalu satu per satu memeluk Tugu Yogya yang jadi simbol pusat Kota Yogyakarta dan menyanyikan lagu- lagu kebangsaan. (ENY/ITA/NIT/FUL/ REN/REI/JOS/RUL

click to change page
28/12/2008 ..... Foto Kegiatan
17/5/2005 ..... Deklarasi
27/12/2008 ..... Bab V Kekayaan
27/12/2008 ..... Bab V Kekayaan
26/12/2008 ..... BAB V kEKAYAAN
26/12/2008 ..... BAB V kEKAYAAN
| | ........ Power by Atwone