Berita Pendidikan
Waswas Menunggu UN Tahap II Ujian Sehari Abaikan Ketekunan Belajar Tiga Tahun
Jakarta, Kompas, Jumat 1 Juli 2005 - Hanya lantaran hasil ujian Matematika mendapat nilai 4,00, Wening harus menelan kenyataan pahit. Meski seluruh mata pelajaran lain mendapat nilai bagus, dan sejak kelas satu ia selalu masuk sepuluh besar siswa terbaik, siswi SMA Al Azhar Kelapa Gading Jakarta ini tetap dinyatakan tidak lulus dan harus ikut ujian ulangan, Agustus mendatang.
Sungguh memilukan! Hanya karena gagal di satu mata pelajaran, anak saya harus mengulang kelas lagi, kata Rita, ibu Wening, bersungut-sungut.
Ibu rumah tangga ini menyambut pengumuman hasil ujian nasional 2004/2005 jenjang SMP-SMA sederajat, Kamis (30/6), dengan perasaan geram bercampur sedih. Ia mengaku masygul karena jerih payah putrinya mengikuti proses belajarmengajar dengan tekun selama tiga tahun seperti tak berbekas.
Saya benar-benar kecewa, ujarnya. Nilai 4,00 untuk mata pelajaran Matematika yang dicapai putrinya dalam ujian nasional (UN) tahap pertama lalu belum cukup untuk bisa lolos dari ketentuan standar nasional yang dipatok minimal 4,26. Ia pun mengaku heran, bagaimana mungkin prestasi putrinya yang selama ini rutin masuk peringkat sepuluh besar di kelasnya bagai tak berbekas.
Kalau proses belajar selama tiga tahun tidak diperhitungkan, tambahnya, lalu apa artinya anak-anak harus rajin mengikuti seluruh rangkaian proses belajar-mengajar selama tiga tahun? Belum lagi, 2-3 bulan menjelang ujian, anak-anak terpaksa pulang sore lantaran harus ikut les.
Selain mengikuti pengayaan materi di sekolah setiap Sabtu, putrinya juga ikut les privat tiga kali seminggu. Kalau benar-benar hanya ditentukan oleh hasil pada hari-H ujian, ya cukup ikut ujian akhir saja, tuturnya.
Kegetiran Rita seperti mewakili hati para orangtua siswa yang tidak lulus pada ujian tahap pertama, awal Juni lalu. Terlebih lagi tahun ini angka ketidaklulusan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Tidak sedikit orangtua yang berbondong-bondong ke sekolah menitikkan air mata.
Kepala SMA Al Azhar Kelapa Gading Uus Suhatna mengungkapkan, di sekolah yang dia pimpin ada lima anak yang tidak lulus. Semua dari jurusan IPA dan tak lulus pada mata pelajaran Matematika. Tahun lalu siswanya lulus 100 persen.
Uus mengaku sesudah hasil ujian nasional diumumkan dia menerima sejumlah keluhan kekecewaan dari orangtua murid. Sebagai kepala sekolah saya juga prihatin, terlebih karena tahun lalu semuanya lulus, katanya.
Pendalaman materi
Menyikapi hal ini, sejumlah sekolah bertekad mengadakan pendalaman materi kepada anak yang tidak lulus. Tujuannya agar kegagalan pada ujian tahap pertama diminimalisir pada ujian tahap dua, Agustus mendatang.
Sutarjo, Kepala SMA Darul Maarif di Jakarta Selatan, misalnya, berencana memberi pendalaman materi kepada siswanya yang gagal. Dari total 157 siswanya yang ikut ujian nasional, 30 di antaranya tidak lulus.
Ketika ditemui di ruangan kerjanya kemarin, dia tengah mengantarkan seorang ibu keluar ruangan sambil menangis. Seorang guru menghampiri ibu itu untuk ikut menenangkan si ibu dan berucap, Tenang saja, Bu. Masih ada kesempatan kedua. Belum tentu anak Ibu urung kuliah.
Menurut Sutarjo, anak ibu tersebut duduk di kelas tiga jurusan IPS dan lulus semua mata pelajaran kecuali Ekonomi yang nilainya 4,25 atau kurang 0,1 dari standar minimal kelulusan. Padahal, siswa bersangkutan sudah mendaftar ke sebuah perguruan tinggi swasta dan diterima.
Selain menerima keluhan secara langsung dari orangtua siswa, Sutarjo juga menerima keluhan lewat telepon. Namun, Sutarjo bisa memaklumi hal tersebut sebagai ekspresi kekecewaan orangtua siswa.
Aemedi, Kepala SMK Negeri 28 Jakarta Selatan, juga berencana mengadakan pendalaman materi bagi siswa yang tidak lulus kali ini. Dengan begitu, siswa yang gagal akan lebih siap lagi menghadapi ujian nasional tahap kedua pada Agustus nanti.
Dia berharap, dengan hasil tersebut guru menjadi semakin terpacu membina murid-muridnya tanpa perlu khawatir terhadap pandangan masyarakat.
Masyarakat, menurut dia, mencari nilai murni. Saya tekankan kepada guru bahwa nilai ini merupakan hasil kerja kita selama satu tahun dan sekolah harus introspeksi, katanya.
Tidak hanya ujian nasional, untuk ujian yang diselenggarakan sekolah pun SMK tersebut juga menilai siswa apa adanya, yakni harus memenuhi standar 4,26. Ada juga yang tidak lulus ujian sekolah, katanya.
Suasana terbalik ditemukan di di SMA Negeri 70 Jakarta Selatan. Di sini, angka kelulusan mencapai 100 persen.
Kegembiraan juga tampak di SMP Negeri 56 Jakarta. Dari 256 siswa peserta ujian, hanya satu yang gagal. Kali ini hasilnya naik drastis, ujar Sulastri Yusli, Kepala SMP Negeri 56. Tahun lalu, yang gagal sampai 32 orang dari 198 peserta
|